Judul: Perpecahan antara sahabat
Naskah Drama :
Di sebuah sekolah SMP ada 7 anak yang
sudah berteman cukup lama.
Pada pagi hari, di sebuah kelas, mereka seperti biasanya sudah berkumpul dengan mengisi suasana kelas dengan ramainya.
Lintang & Amilia :
“(Baru datang dan masuk ke kelas) Pagi teman-teman…”
Maudy :
“Pagi juga…”
Lintang : “Oh ya, kamu udah ngerjain tugas seni musik belum?”
Maudy :
“Udah dong! Pasti kamu belum?”
Lintang :
“Hehehehe……. Emang belum..... Kok tahu aja sih kamu.
Septi :
“Maudy gitu….
Pasti tahu.”
Amilia :
“Benar, benar, benar…..”
Lintang :
“Boleh kan aku contoh pr mu?”
Maudy :
“Boleh, pastinya…”
Anak-anak tertawa gara-gara Lintang. Dan beberapa menit kemudian Bu Dinda pun datang.
Aden :
“Eh teman-teman, bu guru datang….. Jangan ramai!”
Lalu murid-murid duduk dengan rapi ditempatnya masing-masing.
Bu Dinda : “Pagi anak-anak…”
Anak-anak : “Pagi bu……. (Dengan serentak)”
Bu Dinda : “Ayo keluarkan pr kalian yang ibu berikan kemarin…….. Kalau ada
yang tidak mengerjakan, akan saya hukum.”
Semuanya pun mengumpulkan tugas ke depan kelas, kecuali Hendra yang kebingungan karena bukunya hilang, ia tidak tahu siapa yang mengambil bukunya.
Bu Dinda : “Hendra, cepat kumpulkan tugasmu! Hanya tinggal kamu saja yang
belum mengumpulkan.”
Hendra : “(Kebingungan) Maaf bu….. Saya belum.”
Bu Dinda :
“Apa, Belum? Kalau begitu kamu saya hukum mengerjakan tugas di
depan kelas!”
Hendra : “Iya bu…..”
Ardi : “(Tersenyum-senyum sendiri karena berhasil mengambil buku
Hendra) Emang enak aku kerjain… (Berkata dengan suara pelan)”
Setelah pelajaran yang cukup lama, akhirnya bel tanda waktu istirahat pun berbunyi.
Bu Dinda :
“Kalian boleh istirahat……
Nanti kita lanjutkan lagi setelah
istirahat….. Dan Hendra boleh istirahat juga, tapi jangan diulangi
lagi!”
Hendra :
“Iya bu…”
Anak-anak istirahat dan sambil berbicara mengenai masalah yang terjadi pada Hendra.
Septi :
“Hen, kamu tadi kenapa tidak mengerjakan tugas? Biasanya kan
selalu mengerjakan?”
Hendra : “Bukuku hilang, padahal pagi tadi udah aku bawa…”
Amilia : “Lupa kali, naruhnya dimana?”
Hendra : “Aku gak lupa, beneran…”
Maudy : “Pasti ada yang gak bener nih!”
Septi : “Ada hantu kali…”
Maudy : “Ihh, ngeri…!”
Amilia : “Udah, udah… Malah bahas hantu… Mau tidak ikut aku beli
makanan?”
Maudy : “Mau… ikut..”
Akhirnya setelah berbincang, mereka pergi bersama untuk istirahat. Setelah 15 menit berlalu,
bel tanda masuk berbunyi. Murid-murid masuk lalu duduk ditempatnya masing-masing. Bu
Dinda
lalu masuk kelas dan mengajar kembali.
Bu Dinda : “Anak-anak sekarang keluarkan buku Bahasa Indonesianya…”
Aden : “Halaman berapa bu?”
Bu Dinda : “Halaman 35.”
Setelah beberapa jam lamanya pelajaran berlangsung. Bel tanda pulang sudah tiba.
Bu Dinda : “Anak-anak sudah waktunya pulang. Besok kita lanjutkan kembali…”
Anak-anak : “Iya bu…..”
Pada pagi harinya… Yang datang terlebih dahulu adalah Ardi dan Ardi sedang merencanakan sesuatu.
Ardi :“(Berbicara sendiri) Kenapa ya persahabatan mereka erat banget? Aku
ingin persahabatan mereka hancur, tapi bagaimana caranya? (Diam
sambil memikirkan sesuatu). Ah, aku punya ide.”
Ardi : “Hen, kamu kemarin kehilangan buku seni budaya kan? Mungkin saja
diambil Lintang, terus nggak bilang-bilang karena dia kemarin belum
mengerjakan.”
Hendra : “Masaka sih? Tetapi sifatnya dia kan tidak seperti itu……. Kalau
mau apa- apa pasti ngomong.”
Ardi : “Bisa aja dong…. Namanya juga manusia!”
Hendra : “Iya juga sih, nanti pulang sekolah akan aku tanyakan.”
Ardi : “ Lintang, aku mau bicara sama kamu?”
Lintang : “Emangnya ada apa?”
Ardi : “Eh, tadi sewaktu kamu belum datang, kamu dijelek-jelekin didepan
teman-teman oleh Hendra. Tapi jangan bilang-bilang Hendra.”
Lintang : “Emang benar? Awas ya nanti!”
Dalam hati Ardi semakin senang karena bisa memecahkan persahabatan mereka. Lintang juga langsung menceritakan hal ini kepada temannya serta meminta bantuan untuk menemui Hendra dan langsung bertanya kepada Hendra.
Lintang : “Hen, kamu kalau mau menjelek-jelekkan aku tidak usah didepan
teman- teman, langsung aja kali….”
Hendra : “Eh, maksudmu apa? Kamu jugakan yang mengambil bukuku
kemarin.. pake nggak ngaku lagi……”
Lintang : “Jangan asal tuduh dong! Emang buktinya apa?”
Hendra :
“Kamu kemarinkan
yang belum mengerjakan tugas…”
Lintang :
“Ya ampun,
beneran bukan aku yang mengambil…..”
Amilia : “Udah, udah…. Jangan bertengkar lagi, tapi siapa donk yang
menfitnah
kalian berdua?”
Aden : “Emangnya siapa sih yang
bilang kalian berdua tentang hal tersebut?
Hendra & Lintang :
“(Serentak) Ardi.”
Aden :
“Berarti kayaknya sih, Ardi yang mengadu domba kalian
berdua.”
Septi : “Lalu sekarang dimana Ardi? Sekarang kita selesaikan aja masalah
ini...”
Maudy : “Kalau gitu aku cari Ardi… Tunggu dulu ya….”
Aden : “Itu, Ardi….”
Hendra : “He, Ardi kamu bilang bukuku diambil Lintang, ternyata kamu ya
yang ngambil?”
Ardi : “Kata siapa? Bukan aku, beneran deh.....”
Amilia :“Jujur aja, nggak usah bohong.”
Ardi : “Iya deh, aku mau ngaku..... Bener aku yang ngambil.”
Lintang :“Mengapa kau lakukan itu dengan menuduh aku?”
Ardi : “Habis persahabatan kalian deket banget sihh... Aku kan jadi iri
karena aku tidak punya teman.”
Septi : “Tapi gak usah gitu..... Kasihan mereka tau.....Kalau kamu ingin jadi
teman kami
jangan malu-malu.”
Ardi :
“Ya udah, kalau gitu aku minta maaf... dan aku gak akan ngulangin
lagi...
Maudy : “Janji ya...?
Jangan nakal lagi.!”
Ardi : “Janji, kita sahabat.”
Amilia : “Kalau gitu kita sahabat selamanya.......”
Anak-anak : “Hore....... Selamanya..!”
Akhirnya mereka gembira karena bisa tetap bersahabat selamanya........
Dan lalu mereka
bernyanyi bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar